Keliling Danau Tondano

Hampir 4 bulan berada di Tanah Minahasa, akhirnya bisa merealisasikan keinginan aneh saya: muterin danau Tondano. Tidak bisa dibilang aneh juga sih, karena tugas saya memang mencakup 25 kecamatan di kabupaten Minahasa dan 5 kecamatan di kota Tomohon. Sebenarnya tanpa mengelilingi danau Tondano pun, saya masih bisa mengapai wilayah kecamatan. Mungkin lebih tepatnya aneh bin kurang kerjaan?

IMG20160516110740
Danau kritis karena pertumbuhan tak terkendali eceng gondok

Saya mulai berangkat dari Tondano Selatan sekitar jam 10.30 dan kembali ke tempat awal sekitar jam 14.00. Terasa jauh ya? Tidak terlalu kok, kalau googling rata-rata keliling danau Tondano hanya sekitar 1-2 jam saja, saya lama karena niat awalnya kan memang mau mampir ke kantor BP3K masing-masing kecamatan, banyak neduh juga waktu hujannya terlalu deras.
Kalau mau keliling danau Tondano, saya merekomendasikan dimulai dari Barat. Kecamatan yang saya lalui: Tondano Barat-Tondano Selatan-Remboken-Kakas Barat-Kakas-Eris-Tondano Timur-Tondano Barat. Sebenarnya semua jalurnya tipikal jalur bukit mengitari danau, tetapi arah Tondano Selatan (terutama bila lewat UNIMA)-Remboken agak curam dibanding arah Eris-Tondano Timur yang jalannya cenderung mulus. Tempat makan dan tempat rekreasi paling banyak di sepanjang jalur Tondano Selatan-Remboken. Saya sendiri paling suka ketika melewati jalur Kakas-Eris karena pose danau Tondano paling fotogenic bisa dilihat di jalur ini.

IMG20160516131737
Jalan sekeliling danau Tondano jalur Kakas-Eris

Perasaan saya habis mengelilingi danau? Bahagia karena keinginan kurang kerjaan saya terpenuhi, tapi juga tangan dan dudukan puegeel banget. Cukup sekali deh kurang kerjaannya.

Belajar Indonesia

Saya bersyukur saat SD dulu diajar oleh guru-guru yang kompeten. Walau bukan termasuk siswa pintar di kelas (bahkan sering dihukum dan diberi sanksi), tetapi ilmu semasa SD masih teringat sampai sekarang.
Geografi? Zaman SD dulu saya dipaksa menghafal seluruh provinsi di Indonesia, jadi sampai saat ini pun saya bisa dengan cepat mengingat provinsi dan ibukotanya (walau jumlah provinsi di Indonesia seiring waktu berubah, bertambah atau berkurang). Saat ini (2016), Indonesia memiliki 34 provinsi, betul? Danau, sungai, tarian daerah, bahasa daerah, lagu daerah di setiap provinsi dipaksa harus hafal oleh guru saya. Jadi, wajar bukan kalau ketika dewasa sekarang jadi penasaran dengan tempat dan budaya Indonesia? Suatu hal yang terpaksa harus diingat menimbulkan rasa de-javu ketika melewati, melihat, dan merasakan secara nyata.
Sejarah? Saya rasa saya berada pada fase menggebu-gebu kalau masalah sejarah. Betapa penasarannya saya dengan wilayah yang pertama kali diinjakkan kakinya oleh penjajah. Terutama Ternate dan Tidore!
Bahasa Indonesia? Mungkin tulisan saya masih kurang menarik dan komposisi penulisannya pun kadang sedikit berantakan. Tapi bila berbicara tentang struktur kata, apalagi tentang kata depan dan kata berimbuhan, saya bisa cerewet. Kadang saya suka asal komentar jika lihat teman posting dengan kalimat (yang seringnya) salah dalam pemakaian kata depan. Sedih rasanya kalau melihat orang dewasa dan pelajar yang masih tidak mengerti membedakan kata depan dan kata sambung.
Saat ini, saya prihatin melihat pelajar (juga orang dewasa) yang bahkan tidak hafal Pancasila, yang dengan percaya dirinya posting di berbagai medsos tapi bikin gemas karena penempatan kata depan yang salah, yang tidak tahu ibukota provinsi (terutama luar Jawa). Saya sempat kehilangan kata sewaktu salah satu teman bilang: “Papua Nugini itu negara apa? Kok namanya sama kayak Papua?” Yah, walau masih banyak juga teman dan orang di luar sana yang pengetahuan dan kecintaannya pada Indonesia sangat besar.

Yuk, kita belajar menjadi Indonesia, bukan hanya orang yang tinggal di Indonesia.